Cerita di balik
tiap tusuk
Taichan Story lahir tahun 2017 dari satu keyakinan sederhana: sate taichan yang enak itu nggak butuh banyak bumbu. Butuh ayam yang bagus, arang yang panas, dan sambal yang jujur.

Mulai dari satu gerobak
Tahun 2017, kami mulai jualan dari satu gerobak kecil di Gading Serpong, Tangerang. Menu cuma satu: sate taichan original dan lontong. Spanduknya ditulis tangan, pembelinya tetangga sendiri.
Yang bikin orang balik bukan harga, tapi sambalnya. Sambal taichan kami nggak dimasak. Cabai rawit merah, bawang putih, garam, diulek pagi hari, dan diperas jeruk nipis pas disajikan. Kalau sisa, dibuang. Besok ulek lagi.
Kenapa dibakar arang
Banyak yang tanya kenapa kami nggak pakai pemanggang gas yang lebih praktis. Jawabannya: rasanya beda. Arang kasih aroma asap yang nggak bisa ditiru. Ayam yang kering di luar, tetap juicy di dalam, itu cuma bisa dicapai dengan api arang yang diatur tangan.
Sekarang
Hari ini Sate Taichan Story ada di 2 titik di Tangerang: pusat di Gading Serpong, dan cabang di Karawaci yang buka bareng Seblak Prasmanan Khas Bandung. Menunya nambah: taichan crispy, taichan telur gulung, paket indomie dan lontong. Tapi resep sambal dan cara bakarnya sama persis dengan gerobak pertama. Yang berubah cuma jumlah tusuk yang dibakar tiap malam.
Kalau kamu mau bawa cerita ini ke kota kamu, lihat halaman kemitraan.
Arang, selalu
Nggak ada outlet kami yang pakai gas buat bakar sate.
Segar tiap hari
Sambal diulek pagi, habis malam. Sisa dibuang, bukan disimpan.
Rasa yang sama
Bumbu inti dari satu dapur pusat supaya tiap outlet rasanya konsisten.
